#WangOcu : Balimau Kasai

Halo, akhirnya postingan kedua #uwangocu bisa terbit juga. Ini udah telaat bangeet, karena beberapa kendala. Tapi kendalanya gak bisa jadi pembenaran buat telat juga sih. Maafkan atas kelalaian saya, gak bisa me-manage waktu dengan baik.
Tema edisi #uwangocu kali ini yakni, Balimau Kasai.
Fyi, Balimau Kasai itu kayak jadi event di Kampar sehari sebelum memasuki bulan Ramadan. Jadi kayak semarak menyambut bulan puasa gitu. Kalo menurut cerita Ibu Saya, zaman dulu sabun sama shampoo gitu susah nyarinya, gak ada mungkin.

Jadi, ketika memasuki bulan suci Ramadan, kita kan dianjurkan untuk membersihkan diri lahir dan batin. Gak hanya bersih hati, tapi juga bersih secara fisik. Makanya orang tua zaman dulu mandi pakai perasan Limau (jeruk) dan ramuan seperti kunyit, beras, apa lagi ya, Saya lupa, itu disebut Kasai. Di beberapa daerah lain di Kampar, masih kata Ibu saya, ada juga yang pake jenis bunga-bungaan gitu. Terus mandinya, ya, di sungai. Orang dulu mana ada toilet atau kamar mandi di rumah.

keseruan anak-anak mengikuti berbagai perlombaan tradisional yangg diselenggarakan
di pinggir sungai kampar.
(cabut koin dari buah pepaya)
Itu dulu. Kalo sekarang, setiap mau menyambut Ramadan, dikenal dengan hari Balimau. Dimana biasanya orang Kampar pergi ke Sungai untuk mandi-mandi berendam manjah gitu haha lebay! Kalo sekarang acara Balimau Kasai lebih kepada keseruan berbondong-bondong main air ke sungai, diselingi dengan musik orgen atau acara-acara hiburan gitu. Sekarang udah kayak jadi pesta gitu.
Malah istilah “Balimau Kasai” itu sendiri udah bergeser maknanya. Dari yang awalnya kegiatan pembersihan diri, mandi dengan jeruk (saya lupa nama jeruknya, sebangsa jeruk nipis gitu, tapi bukan jeruk nipis) lengkap dengan kasainya orang zaman dulu, hingga sekarang lebih kepada “pesta rakyat” menyambut Ramadan. Bahkan sekarang setiap event atau kegiatan hiburan masyarakat kayak lomba tujuh belasan diiringi musik orgen tunggal dan diadakan di pinggir sungai juga disebut acara Balimau.
Setiap event yang diselenggarakan dalam rangka menyambut bulan puasa disebut acara Balimau. Dulu Saya berpikir, “ngapain sih event yang esensi religinya gak ada dijadikan sebagai event menyambut Ramadan?” dulu saya mikirnya gitu.
Tapi makin kesini, point of viewnya memang harus lebih diperluas. Mari lihat dari segi budayanya. Itu tradisi Kampar yang harus dijaga dan dilestarikan. Yah, terlepas dari apa yang mereka lakukan di sungai yang mungkin tidak sesuai dengan ajaran agama. Tapi mari tarik lebih luas, bahwa acara ini adalah sebuah tradisi unik yang harus terus dipertahankan.
Jangan jadikan Balimau Kasai sebagai syarat memasuki Ramadan. Balimau hanya tradisi budaya masyarakat Kampar menyambut Ramadan, tanda suka cita menyongsong bulan yang penuh berkah. Yang terpenting adalah bersih hati dan luruskan niat.

Kalo kamu pengen ngerasain euphoria menyambut Ramadan dengan mandi balimau, tahun depan langsung ke Kampar aja. Sepanjang sungai Kampar biasanya ramai oleh masyarakat. 
Kamu kemaren Balimau di daerah mana?

Baca juga cerita #wangocu edisi Balimau cerita Bang Ebi. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *