Jalan Kaki Keliling Kawasan Passer Baroe Jakarta

Bosan dengan rutinitas harian dari Senin-Jumat, semenjak pindah saya memang suka menghabiskan weekend dengan berjalan mengelilingi kota! Minggu lalu saya sempat ikut piknik jalan kaki menyusuri tempat bersejarah di Jakarta. Rute Picnichild yang saya ikuti kali ini adalah rute Passer Baroe! Bermodal semangat dan hasrat untuk ngonten (budak konten emang anaknya), jadilah saya berangkat menuju titik kumpul yang ditentukan, Gedung Filateli.

Ini adalah piknik kedua kalinya yang saya ikuti setelah sebelumnya, tahun 2017 lalu, saya ikut rute Kunstkring. Kalau mau baca silakan: #JalanAkhirPekan: Ikut Picnichild, Jalan dari Gedung Joeang 45 Hingga ke Museum A.H. Nasution

Sampai disana, saya bertemu teman-teman yang sudah menunggu terlebih dahulu. Gak banyak, tetapi saya yakin mereka-mereka ini punya semangat yang sama untuk mengenal lebih dekat dengan kota ini dan hobi berjalan kaki, pastinya. Pesertanya mostly sih cewek, cuma ada 3 orang cowok: satu dari tim pikniknya dan 2 peserta, salah satunya adek-adek umur 10 tahun. Dia diajak ibunya. Keren sih, anak-anak emang bagus banget buat diajak kegiatan edukasi gini.

Gedung Filateli. Sebenernya saya sendiri pernah beberapa kali ngelewatin gedung ini, apalagi dulu jaman masih liputan di lapangan. Lokasinya ada di Jalan Pos, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Dari bentuk bangunannya aja udah kelihatan sih ini gedung lama. Dengan gaya arsitektur Art Deco, gedung tua ini memiliki bentuk lebar dan beratap tinggi. 
Jadi bangunan ini dibangunnya kisaran tahun 1912-1929 yang dirancang John van Hoytema, seorang arsitek Belanda. Dulu gedung ini merupakan gedung pos dan telegraf di masa Hindia-Belanda. Guide piknik kami juga menjelaskan bahwa dulu surat-menyurat belum diantarkan hingga ke alamat penerima masing-masing. Sehingga masyarakatlah yang mendatangi kantor pos untuk mengeceknya.
Sekarang gedung ini sudah tidak difungsikan sebagai kantor pos lagi karena dipindahkan ke gedung baru. Dan gedung ini beralih menjadi museum untuk aktivitas filateli. Sayang sekali, saat itu kami tidak bisa masuk, karena ditutup. Gedung ini dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya atau konservasi di Jakarta.

Lalu saya dan teman-teman rombongan melanjutkan perjalanan ke Gedung Kesenian Jakarta yang berada tidak jauh dari Gedung Filateli. 

GKJ juga merupakan gedung bersejarah peninggalan pemerintah Belanda. Dulu, gedung ini dibangun dari keinginan Gubernur Jenderal Belanda, Deandels, untuk membangun gedung sebagai sarana hiburan untuk pertunjukan komedi bagi tentara Belanda yang ada di Indonesia. Pembangunannya direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles. Dibangun tahun 1821 dengan gaya empire oleh arsitek Mayor Schultze. GKJ ini dulunya bernama Theater Schouwburg Weltevreden.

Setelahnya, gedung ini tidak hanya sebagai tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi tempat pertemuan kongres Pemoeda pertama tahun 1926, menjadi tempat peresmian Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), pernah juga dijadikan sebagai kampus oleh Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Indonesia, dan lainnya.

Desain gedung yang mewah dan bergaya neo-renaisance ini bagus dijadikan background foto. Tentu saja saya dan teman-teman tak lupa menangkap beberapa momen di sini. Ya, lumayan buat posting (re: pamer) di Instagram hehe..

Meski hari itu Jakarta terik banget, tapi semangat kami untuk berjelajah tidak surut. Mari kita tuntaskan!

Berjalan agak jauh sedikit, kami tiba di gedung Antara atau disebut Gedung Galeri Fotografi Jurnalistik Antara. Lokasinya ada di kawasan Pasar Baru. Di dalam gedung ini ada banyak foto-foto pameran di lantai bawah. Katanya, foto-foto pameran ini berganti setelah peroide tertentu. Layaknya museum, ruangannya reman-remang dan juga suasana bangunan lama kental terasa. 
Naik menuju lantai atas, saya disajikan mural proklamasi kemerdekaan dan juga tanda peresmian gedung ini pada 27 Desember 1992 silam. Lantai atas ini fungsinya museum, memajang hasil karya, foto-foto dokumentasi, serta alat-alat yang digunakan untuk menyampaikan informasi di jaman dulu. Ada juga komik di dinding yang bercerita mengenai sejarah. 

Di lantai bawah sendiri terbagi dalam dua ruangan. Satu sebagai tempat pameran, sebelahnya seperti ruang serbaguna. Ada kuris-kursi dan meja, yang sekilas terlihat seperti cafe. Saya duga ini jadi tempat kumpul wartawan dan berdiskusi. Waktu itu di atas meja puntung rokok masih berserakan. Saya berkesimpulan bahwa ruangan ini masih dipakai. Ada juga seperti panggung kecil untuk talkshow atau bermain musik menemani hangatnya diskusi sambil minum kopi.

Puas berkeliling, grup kecil kami melanjutkan perjalanan ke Passer Baroe, yeay! Seneng? Iya! Karena di sini banyak yang jualan. Tapi….seketika ingat kalo saat itu lagi tanggal tua dan lagi bokek, yaudah jadinya liat-liat doang.

Jadi Passer Baroe a.k.a Pasar Baru ini punya gaya arsitektur Tionghoa dan Eropa. Pasar yang termasuk pasar tua di Jakarta ini dulunya sebagai tempat pedagang pribumi menjual hasil kebunnya, dan pedagang Tionghoa membuka tokonya. Dulu, yang berbelanja di sini adalah orang-orang kaya di Batavia alias orang Belanda yang tinggal di Rijswijk atau sekarang di jalan Veteran. Kalo kata guide nya sih Pasar Baru ini disebut juga “The Little India” karena sekarang rata-rata yang jualan di sini adalah pedagang India. Kalo mau nyari Sari India gitu ke sini aja!

Suasana ketika berada di Pasar Baru ini terasa saya kembali ke masa jaman jadul. Bangunan-bangunannya juga lama. Ditambah lagi banyak juga orang Tionghoa dan India yang terlihat, semakin menambah suasana seperti sedang tidak di Jakarta!

Eh meskipun begitu, toko-toko retail seperti Matahari, Ramayana, dan lainnya juga ada loh di Pasar Baru. Bahkan ada juga tempat penjual barang bekas. Kalo kata anggota rombongan sih kalo beruntung bisa dapet barang yang oke dengan harga yang super murah.

Di Pasar ini ada Klenteng juga lho, yang kami singgahi waktu itu Klenteng Sin Tek Bio. Ini merupakan salah satu Klenteng tertua di Jakarta. Ciri-ciri Klenteng tua itu biasanya berdekatan dengan pasar. Karena dipercaya bisa memberikan keberkahan dan keberuntungan. Begitu kata guide piknik kami. Menuju ke tempat ibadah ini kita harus melewati jalan sempit antar bangunan dulu. Lokasi Klenteng juga sudah tertutupi oleh bangunan-bangunan.


Karena sudah siang, perut pun sudah keroncongan. Tempat makan yang legendaris dan terkenal di Pasar Baru katanya adalah Bakmi Gang Kelinci! Kalo ke Pasar Baru gak mampir Bakmi Gang Kelinci rasanya ada yang kurang, begitu katanya.

Setelah mencobanya, hmmm…, saya tak bisa banyak berkomentar. Karena beberapa kondisi: 1) saya sedang lapar-laparnya, jadi apapun makanan yang ada akan saya lahap. Sama seperti kondisi ketika lagi sayang-sayangnya, apapun kesalahan yang dia buat akan diri ini lahap semua tanpa sisi (laaaaaah curhat). 2) Saya bukan pecinta bakmi yang tau standar rasa enak bakmi gimana jadi bisa dibandingin. 3) Semua makanan yang halal akan saya lahap karena memegang prinsip hidup ‘gak boleh buang-buang makanan’. Hahaha ga deng, ngeles aja kamu, Tik. Rasanya menurut saya standar, tetapi sensasi ketika tau cerita nya dan lokasinya yang ada di pasar, jadi ngasih poin lebih buat saya. Katanya yang sekarang ini adalah generasi ketiga (CMIIW ya). Dulu awalnya cuma jualan pake gerobak aja. Salut banget!

Setelah perut kenyang, kami pun kembali melanjutkan jalan kaki ke Gereja Pniel a.k.a Gereja Ayam. Kenapa dinamakan ayam? Karena di atas gereja ada penunjuk arah angin dengan bentuk ayam. Ini juga menjadi bangunan bersejarah di kawasan Pasar Baru. Sayangnya, waktu itu di gereja akan ada acara, sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam, cuma di area pekarangan saja. 


Gereja ini termasuk salah satu peninggalan zaman kolonial. Dulu sebelum bangunannya sebesar sekarang, gereja ini hanya berupa kapel kecil. Kemudian Arsitek Cuypers dan Hulswit membangunnya dengan menggabungkan gaya Italia dan Portugis. Sekarang gereja ini bisa menampung hingga 1500 orang. Katanya, di dalam gereja ini ada Alkitab berbahasa Belanda sejak dari tahun 1855. 

2 Replies to “Jalan Kaki Keliling Kawasan Passer Baroe Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *